Thursday, May 26, 2011

TAFSIR Q.S AL-ISRO' : 70


Oleh : Bang Toib
BAB I
PENDAHULUAN
             Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Tidak ada keragu-raguan sedikitpun tentang kebenaran yang ada di dalam kandungan isinya. Al-Quran adalah kalamullah yang merupakan pedoman kehidupan yang mampu menjawab semua pertanyaan dan permasalahan manusia yang ada di dunia ini.
           Dalam menjalani hidup ini hendaknya manusia menjadikan Al-Quran sebagai dasar untuk menjalankan segala sesuatu yang dikerjakannya baik yang bersifat Ubudiyah maupun yang bersifat Muamalah. Karena Al-Quran merupakan kitab suci yang berisi tentang konsep-konsep tentang bagaimana supaya manusia didalam menjalani hidup tidak salah arah atau keluar dari tatanan kehidupan yang hakiki.
           Dalam Al-Quran telah dijelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang mulia dan mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Allah memberi manusia akal supaya manusia berfikir untuk membangun sebuah peradaban dan kemaslahatan di dalamnya. Dan Itulah salah satu tujuan manusia diciptakan di dunia ini. Ia mengemban tugas sebagai khalifah di bumi ini.
           Secara specifik dalam surah Al-Isra’ ayat 70, diterangkan bahwa kedudukan anak adam (manusia) lebih utama derajatnya dibandingkan dengan makhluk lainnya. Allah memberi kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Dengan kelebihan ini diharapkan manusia mampu menggunakan serta berbuat  sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya sebagai wujud dari pengabdian manusia kepada penciptanya, karena pada dasarnya tujuan utama manusia diciptakan untuk beribadah atau mengabdi kepada Allah SWT.
           Untuk mengetahui kelebihan dan keistimewaan dari penciptaan manusia secara jelas berdasarkan Al-Quran, akan dibahas dalam bab berikutnya. 
          











BAB II
PEMBAHASAN
A.     Surah Al-Isra’: 70
*ôs)s9ur$oYøB§x.ûÓÍ_t/tPyŠ#uäöNßg»oYù=uHxqurÎûÎhŽy9ø9$#̍óst7ø9$#urNßg»oYø%yuuršÆÏiBÏM»t7ÍhŠ©Ü9$#óOßg»uZù=žÒsùur
4n?tã9ŽÏVŸ2ô`£JÏiB$oYø)n=yzWxŠÅÒøÿs?ÇÐÉÈ
Artinya:
Dan  Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.(QS: Al-Isra’ : 70)


B.     Tafsir Mufradat
§  كر منا
o   Bersal dari kata كرم – يكرم – كرما - وكرامة yang berarti[1]:
-ضد لؤم, mulia
-          كنا نفيسا, Amat berharga 
-            كنا كريماDermawan
-           السحا بMenurunkan hujan
-           Sesuatu yang diutamakan.[2]
-          Menunjukkan banyaknya kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
§  بني ادم : Anak-anak adam
-Dengan pengetahuan, akal, bentuk yang paling baik, setelah wafat jenazahnya dianggap suci.[3]
§  في البر والبحري
-          Di daratan dan lautan.
-          Dengan menaiki kendaraan dengan menaiki perahu.
-          Diangkut diatas binatang-binatang, kereta-kereta, pesawat-pesawat terbang, balon-balon dan bahtera-bahtera[4].
§  ورزقنهم من الطيبت
-          Allah memberi rizki yang baik.berupa makanan nabati dan hewani
§  ممن خلقنا : makhluk yang telah kami ciptakan.
-          Selain malaikat as.[5]
-          Seperti hewan-hewan ternak dan hewan-hewan liar.[6]
§  تفضيلا : dengan kelebihan yang sempurna
-          Mempunyai keutamaan, kelebihan
-          Melebihi, mengatasi
-          Bertambah
-          Tertinggal, tersisa.[7]

C.     Isi Kandungan Ayat
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang diberi kelebihan serta keistemewaan. Dalam penciptaanya manusia dianugerahi akal, rupa yang indah dan bentuk badan yang serasi. Hal ini tentu saja menjadi keutamaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.  Dalam konteks ayat diatas, Allah memuliakan bani Adam yaitu manusia dari makhluk yang lain baik malaikat,jin, semua jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan. Kelebihan manusia dari makhluk-makhluk lain berupa fisik maupun non fisik.[8]
manusia dianugrahi Allah keistemewaan yang tidak diberikan kepada selainnya dan itulah yang menjadikan manusia mulia serta harus dihormati, walaupun ia telah menjadi mayat. Darah, harta, dan kehormatan manusia tidak boleh dialirkan dan dirampas begitu saja, semua harus dihormati dan dimuliakan.
Sungguh besar rizki yang diberikan oleh Allah SWT. Tak  ada sedikitpun yang kurang dari anugerah-Nya. Allah telah menyediakan semua yang dibutukan makhluk-Nya sehingga Manusia tidak mampu menghitung atas apa yang Allah karuniakan kepadanya. Bahkan makhluk selain manusia seperti hewan melata di muka bumi mendapat rizki tampa mengalami masalah dan kekurangan.
Untuk mendapatkan rizki dari Allah, tentu saja manusia juga harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Rizki itu tidak datang dengan sendirinya, perlu daya dan upaya  untuk memperolehnya dengan disertai doa dan tawakkal. Dalam pemanfaatannya pun harus disertai rasa syukur dan senantiasa mengharap ridho-Nya.
Allah juga menundukkan segala sesuatu yang ada di darat maupun di laut untuk memberi kemanfaatan bagi kehidupan manusia. Manusia diberi petunjuk untuk menciptakan sarana transportasi untuk memenuhi kebutuhannya. Jika kita lihat di zaman modern ini, manusia tidak perlu berjalan kaki untuk melintasi daratan, tidak perlu berenang untuk mengarungi luasnya samudera. Karena semua itu dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai macam alat transportasi dari yang biasa saja maupun yang super canggih sekalipun.
Kemuliaan dari manusia dapat dibuktikan dengan tujuan diciptakannya yaitu sebagai khalifah fil ardh. Mengemban tugas sebagai khalifah di bumi tentu saja tidak mudah. Dalam hal ini manusia harus memelihara keseimbangan lingkungan baik lngkungan hidup maupun social. Untuk proses pemeliharaan tersebut harus berfikir dan mengerahkan seluruh kemampuannya, maka dari itu Allah anugrahkan kepada manusia akal yang mampu menyerap pengetahuan serta memecahkan sesuatu persoalan.
Kemuliaan manusia sebagai khalifah di bumi telah dijelaskan dalam surah Al-Baqarah : 30
Artinya:
ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
                meskipun demikian, banyak manusia yang tidak menyadari akn ketinggian derajatnya sehingga tidak melaksanakan sebagai fungsinya sebagai khalifah di bumi ini.
            Di akhir ayat, Allah SWT menegaskan bahwa Dia telah melebihkan mereka itu dengan kelebihan yang sempurna dari kebenyakan makhluk yang lain yang di ciptakan-Nya. Dengan demikian seharusnya manusia tidak mengadakan tuhan-tuhan yang lain yang mereka persekutukan dengan Allah. Akan tetapi hendaknya beribadah kepada-Nya, mensyukyuri semua nikmat-Nya, serta [9]mengikuti bimbingan wahyu-Nya.

BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas,  dapat diambil  pokok isi kandungan yang terdapat dalam surah al-Isra’ ayat 70. ayat ini berisi tentang keistemewaan dan kemuliaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Dalam penciptaannya, manusia dikaruniai akal, rupa yang indah, tubuh yang serasi dan lain sebagainya.
Surah al-Isra’ ayat 70 memberikan ibrah kepada agar selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan dan tidak menyekutukan-Nya. Karena Allah telah menundukkan serta melimpahkan kepada manusia apa yang ada di darat dan di laut, bahkan memeliharanya dengan perhatian yang baik. Kemudian manusia diberi petunjuk untuk menciptakan kendaraan, kapal, pesawat terbang guna alat untuk mencapai kebutuhan dalam menjalani kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA
·        Ahmad Warson Al-Munawir. Kamus Arab-Indonesia Al-Munawir. 1997.  Pustaka Progesif : Surabaya
·        Imam Jalaluddin Al-Mahaly, Imam Jalaluddin As-Suyuty. Tafsir Jalalain. 1980. Sinar Baru: Bandung
·        Ahmad Musthofa Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. Jilid 2. 1987. Toha Putra: Semarang
·        Depag.Al-Quran Dan Tafsirnya. 1991. PT. Dana Bhakti Wakaf : Yogyakarta
·        Depag.Al-Quran Dan Tafsirnya. 2009. Lembaga Percetakan Al-Quran : Jakarta


[1] Ahmad Warson Al-Munawir. Kamus arab-indonesia Al-Munawir. (Surabaya .Pustaka progesif.1997) hal. 1203
[2]Imam jalaluddin al-mahaly,imam jalaluddin as-suyuty. Tafsir jalalain. (Bandung, Sinar baru. 1990) hal. 1154
[3]Ibid….1154
[4]Ahmad musthofa al-maraghi. Terjemah tafsir al-maraghi. Jilid 2. (semarang, toha putra, 1987). Hal. 142
[5]Ibid…..142
[6]Ibid……1155
[7] Ibid…..1061
[8]Depag. Al-Quran dan tafsirnya.(yogyakarta, PT. Dana Bhakti wakaf, 1991). hal. 517
[9]Depag. Al-Quran dan tafsirnya.(Jakarta, lembaga percetakan Al-Quran, 2009). Hal 622

1 komentar:

Ahlal Kamal said...

thanks postingnya sangat bermanfa'at

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Host